Sunday, 15 February 2015

Melongok bengkel Djubair, perakit pesawat swayasa pertama


angan dibayangkan bengkel itu berisi peralatan mutakhir atau dilengkapi semacam laboratorium canggih. Sebab yang ada di sana cuma beberapa kunci ring, potongan suku cadang pesawat terikat rapih berserakan serta beberapa alat lain. Debu pun sudah bersarang di segala penjuru ruangan. Namun dari tempat itu, puluhan pesawat buatan tangan (swayasa) lahir.

Pemilik bengkel di rumah itu bernama Djubair Oemar Djaya. Saat merdeka.com berkunjung ke sana, dia tampak keluar dari rumahnya dengan langkah pelan. Maklum, usianya tak muda lagi. Djubair memang dikenal sebagai salah satu perekayasa atau pencipta pesawat rakitan home build aircraft kebanggaan tanah air. Salah satu kebanggaannya pernah dianugerahi oleh Menteri Riset dan Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie dalam kategori penghargaan pembuat pesawat terbang swayasa terbaik pada 1987 silam.

Bagi Djubair, perjalanannya tidak singkat untuk bisa sampai menggeluti menjadi perekayasa pesawat terbang buatan rumahan. Dilahirkan di Desa Bungah, Gresik, Jawa Timur, Djubair kecil sudah bercita-cita mendalami dunia penerbangan. Tapi seperti nasib bocah-bocah sezamannya, cita-citanya menjadi penerbang gagal total karena himpitan ekonomi keluarga. Namun demikian, upayanya bergelut di dunia penerbangan tidak surut.

Sedari Sekolah Menengah Pertama (SMP), dia sudah menjadi anggota Pramuka Dirgantara. Sejak saat itu dia sudah mencoba merakit dan merancang pesawat dengan skala kecil. Dahulu di masa sekolah dia gemar memungut sampah-sampah pedagang kain hanya untuk mengambil kayu bekas gulungan benang dan kain. "Dulu untuk mencari bahan kayu diambil dari situ," ujarnya kepada merdeka.com di rumahnya, Tangerang, Banten, pekan lalu. 

Selepas dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), otak encer Djubari membuatnya lolos masuk Sekolah Teknik Mesin (STM) di daerahnya. Namun sayang, sekolah itu tidak ditamatkannya sampai lulus karena masalah biaya. 

Bakat Djubari di dunia penerbangan sebenarnya sudah bisa dilihat sejak di SMP. Di level pendidikan itu dia sudah berhasil membuat mainan pesawat kecil dari bahan sisa pedagang kain. Berbekal kayu bekas dan gulungan kain dia sudah bisa menciptakan mainan pesawat dengan baling baling. 

"Masih ingat dulu sekitar tahun 1958, semua buku perakitan pesawat berbahasa Inggris, mencari kata is (bahasa Inggris) saja harus mengartikan satu per satu, setengah mati itu," ujarnya sambil menandaskan dia menggunakan literatur cetak biru perakitan pesawat dari buku-buku buatan tokoh asal Amerika Serikat.

Meski tidak lulus STM, bakat dan kecerdasan Djubair membuatnya lolos masuk Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Waktu itu, untuk masuk AURI sudah bisa menggunakan ijazah SMP. Dengan ijazah itu, dia mampu menembus ketatnya proses seleksi dan pendidikan militer di Solo pada 1962. Dia senang bukan kepalang karena bakat dan cita-citanya masuk dunia penerbangan tercapai. 

Di AURI, Djubair seperti kecanduan pesawat. Dia terus mengasah bakat dan pengetahuannya, hingga mampu merancang dan merakit burung terbang berdasarkan pengalaman semata tanpa melalui pendidikan khusus. "Langit tak memiliki batas, melihat pesawat rakitan saya bisa terbang di langit, kepuasaan tak terukur," ujar Pensiunan Sersan Mayor itu.

0 komentar:

Post a Comment